Pages

Saturday, October 23, 2010

Koleksi Artikel myMasjid ..


Cinta itu indah....





A'uudzu billahi minasy syaithanirrajim



Bismillahirrahmanirrahim



Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi



wasallim





Cinta itu Indah





Maulana Syaikh Muhammad Nazhim 'Adil Al-Haqqani



dalam Rising Sun





Cinta bagi Allah dan bagi para hamba-Nya adalah sangat indah. Jika



engkau mengerjakan sesuatu dengan cinta, Allah akan menerimanya dan



membuatnya terasa menyenangkan bagimu. Jika engkau mencintai



pekerjaanmu, akan lebih mudah mengerjakannya, sebaliknya jika tidak,



ia akan membebanimu. Allah SWT berfirman, "Aku tidak membutuhkan



ibadahmu, Aku hanya mencari cinta yang engkau berikan." Wahai orang



yang beriman, engkau tidak boleh mengabaikan yang satu ini. Jangan



seperti budak yang mendayung dalam kapal layar, jika engkau salat,



lakukanlah dengan cinta, bukannya dengan terpaksa, seolah-olah ada



seorang pengawas yang mengawasimu dengan cambuk di tangannya. Allah



tidak akan menghargai ibadah seperti itu. Sekarang kita mencoba untuk



melaksanakan semua praktek-praktek ibadah yang telah dianjurkan,



tetapi lupa untuk memohon cinta Allah sehingga kita akhirnya hanya



bagaikan seonggok robot mekanik atau seperti seseorang yang melakukan



senam belaka.





Allah telah menyuruh kita menggunakan tubuh kita untuk beribadah dan



melayani hamba yang lain dengan jalan sadaqah dan melakukan perbuatan



baik lainnya. Apa yang akan menjadi buah dari tindakan tersebut? Jika



bukan cinta, tentu itu adalah buah yang pahit dan tidak diterima.



Jika ibadah kita menyebabkan cinta kepada Allah tumbuh dalam hati



kita, maka kita harus menjaganya dan melanjutkan praktek ibadah itu



dalam hidup kita. Jika kita tetap memelihara hubungan dengan guru



spiritual kita, dan merasa bahwa dengan menjaga hubungan ini, cinta



kita terhadap Allah semakin tumbuh, maka kita pun harus mendekatkan



diri kita kepadanya.





Cinta kepada Allah tidak mudah didapat, karena kita tidak bisa



membayangkan-Nya, sehingga Allah SWT mengutus Nabi-Nabi untuk



mewakili cinta-Nya. Kekasih Allah, Rasulullah Muhammad sall-



Allahu 'alaihi wasallam adalah suatu medium yang murni untuk



mentransmisikan cinta itu, sehingga para sahabat demikian tenggelam



dalam cinta kepada beliau, dan dari situ terpindahkan menuju cinta



kepada Allah. Beliau sall-Allahu 'alaihi wasallam adalah wakil Allah,



yang merupakan Kebenaran Haqiqi. Karenanya, Rasulullah sall-



Allahu 'alaihi wasallam menyatakan, "Siapa yang telah melihatku,



berarti telah melihat Kebenaran Haqiqi."





Ketika suatu delegasi non-muslim mengunjungi Madinah, mereka



tercengang melihat cinta dan penghormatan yang diberikan para sahabat



kepada Rasulullah sall-Allahu 'alaihi wasllam. Ketika pulang mereka



lapor kepada pemimpinnya, "Kami telah banyak bertemu kaisar, raja,



dan kepala sukum, tetapi belum pernah kami melihat seorang pemimpin



yang pengikutnya begitu setia dan memperlakukannya dengan penuh



cinta." Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka tidak pernah bisa memahami



rahasia cinta ini, sebagaimana ego mereka menyebabkan mereka menolak



kerasulan Nabi Muhammad sall-Allahu 'alaihi wasallam. Cinta sahabat



kepada Rasulullah sall-Allahu 'alaihi wasallam begitu dalamnya



sehingga nereka sanggup mengatakan, "Kami rela berkorban untukmu, Yaa



Rasulallah, bahkan mengorbankan ayah dan ibu kami." Bagi orang Arab,



pernyataan seperti ini lebih bermakna ketimbang, "Aku rela berkorban



untukmu, Yaa Rasulallah." Kenyataannya, banyak dari mereka yang



menjalani penderitaan yang hampir tidak tertahankan demi iman mereka



kepada misi Rasulullah sall-Allahu 'alaihi wasllam, diasingkan, tidak



mendapat warisan, diboikot, disiksa, bahkan mati.





Siapa yang akan mewakili Rasulullah sall-Allahu 'alaihi wasallam di



dunia ini setelah beliau wafat? Mereka adalah orang-orang yang mampu



menimbulkan cinta seperti itu. Rasulullah sall-Allahu 'alaihi



wasallam sendiri memberikan gambaran bahwa siapa yang melihat mereka,



akan ingat kepada Allah. Siapa yang merasa haus akan cinta Allah



harus mencari orang-orang seperti itu. Sekarang ini kebanyakan dari



mereka tersembunyi, dan Islam saat ini telah bermakna sekedar sebagai



suatu set aturan-aturan perilaku dan bentuk-bentuk ritual - suatu



kerangka kosong. Siapa yang akan dapat memperoleh kenikmatan ruhaniah



dari hal semacam itu? Akankah masjid-masjid hanya menjadi gymnasium



(stadion senam)? Dan kini, bahkan para "guru senam"nya menentang



Jalan Sufi, yang merupakan jalur bagi hati, yang menuntun pada



Kecintaan pada Allah SWT.





Allah telah memberikan suatu instrumen untuk mengukur, bukan tekanan



darah, tetapi "tekanan cinta" kita dan target kita adalah untuk



membuat tekanan cinta itu semakin besar. Ya, carilah cara untuk



meningkatkannya setiap hari. Rasulullah sall-Allahu 'alaihi wasallam



pernah bersabda, "Siapa pun yang tidak mengalami peningkatan setiap



hari akan merugi." Apa artinya? Hal ini bukan berarti bahwa jika hari



ini engkau salat 40 raka'at, lalu besok menjadi 41 raka'at, dan lusa



42 raka'at. Tidak demikian. Apa yang diinginkan adalah agar engkau



melakukannya dengan penuh kecintaan kepada Allah, sehingga Dia akan



mengamati dan berkata, "Hamba-Ku telah mengirimkan cinta lebih banyak



daripada kemarin." Salah satu Grandsyaikh kita memberikan suatu



kesimpulan yang baik tentang apa yang saya coba katakan, "Sebutir



atom cinta lebih berharga daripada 70 tahun beribadah tanpa cinta."





Wa min Allah at-taufiq.









Sumbangan : MoHaMaD Ka


0 comments:

Post a Comment